Berkunjung ke Mesjid Tertua Di Tabalong: Mesjid Pusaka Banua Lawas

Jika kalian sedang mencari tempat Wisata Religi di Kabupaten Tabalong saya sarankan tidak usah repot-repot mengetikkan berbagai kata pencarian lewat google

Kenapa???

Karena ketika kalian membaca artikel ini berarti kalian telah menemukan yang kalian cari. Di bawah ini secara lengkap akan saya kupas sebuah Objek Wisata Religi yang berada di Kecamatan Banua Lawas Kabupaten Tabalong bernama Mesjid Pusaka Banua Lawas

Mesjid Pusaka Banua Lawas
Mesjid yang telah berumur tua ini menyimpan bukti sejarah penyebaran islam di tanah Banua Lawas. Mesjid ini berdiri semenjak 1625 h dan tetap kokoh hingga sekarang. Di lihat dari umurnya yang hampir mencapai 400 tahun bisa di katakan mesjid ini merupakan yang tertua di kabupaten tabalong dan juga tentunya merupakan peninggalan yang sangat berharga untuk di jaga kelestariannya.

Mesjid pusaka banua lawas atau juga sering di sebut mesjid pusaka pasar arba adalah mesjid yang juga di keramatkan oleh banyak orang. Banyak yang mengaku bahwa harapannya terkabul setelah berdoa ataupun bernazar dengan mengambil berkat dari mesjid tersebut. Setiap hari selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke sana terlebih hari rabu dan minggu karena bertepatan dengan hari pasar dan hari libur.

Sejarah Banua Lawas


Berbicara tentang Mesjid Pusaka tentu tidak lepas dari tempat mesjid itu berdiri.

Mesjid Pusaka Dulu
Menurut beberapa sumber, Banua Lawas dahulu merupakan sebuah wilayah yang di diami oleh suku dayak maanyan dari kerajaan nan sarunai. Tepat di mana Mesjid Pusaka berdiri dahulunya merupakan Pesanggrahan yang berpungsi sebagai tempat tinggal sekaligus di jadikan tempat untuk bermusyawarah.

Nama Banua Lawas sendiri di perkirakan mengacu pada istilah Suku Dayak yaitu Banua Usang. Usang (lama) yang dalam bahasa banjarnya sama dengan “Lawas”. Tidak di yakini jelas maksud dari penyebutan Banua Usang tersebut, namun jika menilik sejarah, Banua Usang merupakan daerah yang dulu pernah tempati dan kemudian di tinggalkan Suku Dayak Maanyan

Ketika islam masuk ke Banua Lawas, Suku Dayak terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yaitu menerima dengan baik kedatangan islam. Dan yang kedua menolak untuk menerima namun tidak memusuhi islam. Mereka yang menolak memutuskan untuk meninggalkan banua lawas menuju pedalaman dan sebagian menetap di Daerah Barito Timur.

Banua lawas sendiri merupakan sebuah kecamatan yang ada di kabupaten tabalong, kalimantan selatan. Sering terjadi kekeliruan dalam hal penyebutan wilayah banua lawas itu sendiri. Orang sering menyebut banua lawas kelua (banua lawas merupakan wilayah dari kec kelua) padahal banua lawas merupakan satu kecamatan tersendiri layaknya kecamatan kelua. Dapat di maklumi memang, nama banua lawas sedikit kurang populer di banding kelua dan juga kecamatan kelua dengan kecamatan banua lawas bertetangga.

Sejarah Pembangunan Mesjid Pusaka Banua Lawas


Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, pembangunan mesjid pusaka di prakarsai oleh khatib dayan dan di bantu oleh saudarannya sultan abdurrahman.
Pembangunan juga melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dayak, datu ranggana (puain),  datu kartamina (sungai rukam), datu saripanji (banua usang), langlang buana (banua usang), taruntung manau (banua usang), timba sagara (banua usang), layar sampit (kota waringin), pambalah batung (barito) dan garuntung waluh (banua usang).

Asal usul mesjid pusaka banua lawas merupakan tempat tinggal kepala suku dayak maanyan (pesanggrahan) berbentuk rumah panggung. Tempat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal kepala suku juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah masyarakat dayak maanyan yang waktu itu mendiami wilayah banua lawas.

Mesjid pusaka di bangun pada hari kamis tahun1625 m dengan berarsitektur tradisional rumah panggung dengan atap tingkat. Materialnya sebagian besar menggunakan kayu sedangkan dinding terbuat dari pelupuh dan atapnya dari daun rumbia (daun pohon sagu) serta seluruh pengikatnya menggunakan haduk (tali ijuk) yang di pintal.

Menurut penuturan masyarakat di hari itu ada 3 buah mesjid yang di bangun oleh khatib dayan dan sultan abdurrahman.

Tiga buah mesjid tersebut:
1. Mesjid pusaka banua lawas,
2. Mesjid puain dan
3. Mesjid paran

Selesai di kerjakan dalam waktu 1 hari yakni pada hari kamis. Kemudian pada ke esokan harinya di lakukan shalat jum’at secara serentak pada ke tiga buah mesjid tersebut.

Setelah sholat subuh di hari kamis, khatib dayan dan sultan abdurrahman membangunkan 4 tiang utama (tiang guru) mesjid pusaka di banua lawas yang di ambil dari kayu berjenis betung, setelah itu pengerjaan selanjutnya di serahkan kepada tokoh masyarakat. Sedangkan beliau menuju ke daerah puain guna membangunkan 4 tiang utama di sana kemudian di lanjutkan ke darah paran untuk membangunkan 4 tiang utama mesjid paran.

Rehab Mesjid Pusaka


Tidak sebesar sekarang ini, ketika pertama kali berdiri mesjid pusaka hanya berukuran 15 x 16 meter.

Rehabilitasi pertama di laksanakan pada tahun1669 m
Adapun yang di rehap adalah:
1.    Pelebaran mesjid menjadi 16 x 17 m dari sebelumnya 15 x 16 m
2.    Penggantian tiang utama (tiang guru) dan tiang lainnya yang sebelumnya berjenis pohon betung dengan kayu ulin (kayu besi)
Rehab di pelopori oleh daurbung seorang toko masyarakat sepeninggal khatib dayan dan sultan abdurrahman.

Rehabilitasi yang ke dua dilaksanakan pada tahun 1769
Adapun yang di rehap adalah:
1.    Penyambungan tiang utama karena masih kurang tinggi
2.    Penggantian tiang penunjang yang rusak.
Rehab di pelopori oleh haji abu bakar seorang ulama di banua lawas.

Rehabilitasi yang ke tiga di laksanakan pada tahun 1791 di pelopori oleh khatib tasan (putera dari haji abu bakar)

Pada tahun 1848 di laksanakan kembali rehabilitasi mesjid pusaka. Pelaksanaannya di pimpin langsung oleh seorang tokoh ulama dan tokoh perjuangan bernama penghulu rasyid.
Adapun yang di rehab adalah:
1.    Penggantian dinding pelupuh dengan papan kayu
2.    Penggantian perabot atas yang asalnya dari bambu dengan kayu
3.    Pelebaran bangunan induk menjadi ukuran yang sekarang ini.

Pada tahun 1925 di laksanakan penimbukan dasar mesjid. Tanah untuk penimbukan merupakan tanah yang di angkut masyarakat dari kediaman masing-masing.

Pada tahun 1932 di laksanakan lagi rehabilitasi yang di pimpin oleh haji dukahar
Adapun yang di rehab adalah:
1.    Penggantian dinding dari papan kayu biasa dengan kayu ulin (kayu besi)
2.    Pemasangan tehel
3.    Pemasangan pataka mesjid yang baru yang di buat oleh tukang pataka asal paniuran hsu.
Pataka yang lama kemudian di simpan di samping mihrab mesjid sebagai bukti sejarah.

Ada aturan tidak tertulis di dalam rehap mesjid pusaka yang tetap di pertahankan sampai sekarang yaitu tidak boleh merubah bentuk dari mesjid itu sendiri. Dinding dan lantai mesjid pusaka hingga saat ini tidak pernah lagi di lakukan penggantian. Sedangkan pelebaran hanya dalam bentuk teras keliling tanpa memperlebar bangunan induk.

Bagian bagian masjid

Bangunan Utama

Ruangan Utama Mesjid
Di tengah ruangan utama terdapat 16 tiang penopang di tambah 1 tiang yang berada di pusatnya. 4 tiang berukuran lebih besar berada di tengah. Jumlah tiang tersebut melambangkan jumlah rakaat sholat 5 waktu sehari semalam.

Tepat di tengah mesjid terdapat sebuah tiang dengan tangga menjulang ke atas. Terdapat sejumlah 15 anak tangga tertancap ke tiang secara melingkar. Di atasnya terdapat sebuah balkon persegi. Dulu tempat ini di peruntukkan untuk tempat adzan dan sekarang beralih fungsi sebagai tempat i’tikaf atau tempat pengunjung melihat pemandangan mesjid dari atas.

Namun perlu di ingat!!!
Melihat ukuran tangga yang cukup kecil dan ketinggian lumayan, maka tidak di sarankan bagi yang takut ketinggian atau menaikinya secara berdesakan.

Di sana terdapat pula 4 tiang guru (tiang utama) yang di selimuti kain berwarna kuning dan di gantungi kembang. Kebiasaan menapihi (menyelimuti) tiang utama sudah ada sejak lama. Kegiatan menapihi tiang guru ini berkaitan erat dengan nadzar para pengunjung yang keinginannya terkabul dengan mengambil berkat dari mesjid pusaka.

Mihrab


Bangunan mihrab dibangun menyatu dengan bangunan ruang utama, terutama pada dinding dan lantainya, tetapi mempunyai atap/kubah tersendiri. Bangunan mihrab berdenah segi delapan, atapnya dua tingkat dan diantara kedua tingkat atap tersebut terdapat celah/pemisah berupa dinding kaca. Kaca ini dipasang berkotak-kotak seperti pasangan bata.

Teras

Di samping kiri dan kanan mesjid terdapat teras yang lumayan luas. Teras ini selain sebagai tempat perluasan area sholat juga berfungsi sebagai tempat i’tikaf sembari bersantai diri menikmati tenangnya suasana mesjid pusaka.

Ada aturan tidak tertulis dalam renovasi atau perbaikan bangunan utama mesjid pusaka. Bangunan utama tidak boleh di rubah baik ukuran maupun bentuknya. Maka untuk perluasan di bangunlah teras mesjid.

Halaman


Halaman mesjid lumayan luas dan telah di beri atap dengan rangka baja ringan. Di area kanan lebih di fungsikan sebagai tempat parkir. Di sana juga di lengkapi fasilitas kursi panjang, papan pengumuman dan tempat sampah.

Di sebelah kiri halaman terdapat wc, kamar mandi  serta tempat wudhu. Letak wc dan tempat wudhu yang berdekatan memudahkan pengunjung untuk bersuci dari hadast dan najis sebelum memasuki mesjid.

Di dalamnya juga di lengkapi dengan papan pengumuman serta kursi panjang. Bagi pengunjung yang ingin bersantai atau ingin memakai sepatunya biasa kursi panjang ini merupakan tempat favorit untuk itu.

Selain itu di samping kanan bagian luar mesjid juga terdapat parkiran, jika di lihat dari bentuknya parkiran ini lebih di fungsikan untuk parikiran kendaraan roda 4. Namun kendaraan roda dua pun juga kadang terlihat parkir di sana.

Kaum Mesjid Pusaka Banua Lawas


Kaum mesjid di artikan oleh banyak kalangan di artikan sebagai penjaga mesjid atau seseorang yang di tugaskan untuk memelihara, menjaga dan merawat kebersihan mesjid dan juga sekaligus menjadi penanggung jawab segala kegiatan ibadah di sebuah mesjid. Seperti halnya adzan 5 waktu sampai menjadi imam sholat.

Pekerjaan sehari hari kaum adalah bersih bersih mesjid baik di dalam maupun di luar mesjid.

Kaum mesjid banua lawas di wajibkan untuk selalu standbye di tempat setiap saat karena mesjid pusaka setiah hari sering kali di kunjungi oleh para peziarah atau para wisatawan lokal maupun dari luar daerah.

Satu hal yang unik dari mesjid pusaka, yakni tradisi pemilihan kaum layaknya pemilihan kepala daerah atau pilkada. Mereka yang terpilih nantinya di beri kuasa untuk menjadi kaum mesjid pusaka banua lawas.

Tradisi pemilihan ini di mulai dari tahun 2000 silam. Sebelumnya kaum di pilih hanya di tunjuk secara langsung oleh masyarakat kemudian pada tahun 2000 an muncul gagasan untuk mengadakan pemilihan mungkin karena ada beberapa orang yang juga menginginkan menjadi kaum mesjid pusaka.

Kaum mesjid pusaka bertugas selama 5 tahun dalam 1 periode. Masa bertugas tidak bersifat mutlak karena suatu saat bisa saja di berhentikan jika melakukan kesalahan yang tidak dapat di tolerir dan kaum sendiri harus menerima jika di berhentikan.

Dari tahun 2000 hingga tahun 2018, sudah ada 5 orang kaum yang menjabat di mesjid pusaka.
Pertama di jabat oleh abdullah syarif (2000-2005), misran (2005-2010), abdul kholik 2010-2012), h. Makeran asri (2012-2016) dan terakhir sejak tanggal 20 september 2016 hingga sekarang di jabat lagi oleh misran yang sebelumnya pernah menjabat pada periode 2005 hingga 2010.

Untuk menjadi kaum mesjid pusaka calon kaum di wajibkan hafal surah pendek seperti al-a’la, al-ghasyiyah, as-sajadah (karena setiap jum’at biasanya selalu melakukan sujud sajadah). Selain itu kaum juga harus bisa menjadi imam dan di hari jum’at apabila bilal (muadzin) berhalangan hadir dia harus bersedia menggantikan.

Sebagai pengelola mesjid kaum juga berkewajiban melaporkan jumlah pejiarah yang datang kepada instansi terkait

Rumah Kaum

Sebagai penjaga mesjid, kaum mesjid di berikan hak mendiami sebuah rumah yang terletak berseberangan dengan mesjid itu sendiri.

Rumah ini selain di gunakan sebagai tempat tinggal kaum, juga berfungsi sebagai tempat  kaum menerima tamu, tempat penjiarah selamatan.
Biasanya penjiarah membawa makanan atau kue yang sebelumnya di beli di pasar tidak jauh dari lokasi mesjid pusaka.

Peninggalan sejarah

Beduk Mesjid

Beduk ini merupakan peninggalan khatib dayan dan sultan abdurrahman. Terbuat dari kayu jenis banglai. Usianya sama dengan usia mesjid pusaka.
Sekarang di letakkan di teras sebelah kiri belakang.
Konon ceritanya beduk ini pernah di jadikan tempat sembunyi penghulu rasyid dari kejaran belanda. Setiap kali di tengok kedalam nampak kosong, namun ketika belanda telah pergi beliau keluar dari beduk itu.
Pernah juga beduk itu di buang oleh belanda ke sungai di belakang mesjid. Anehnya hanyutnya melawan arah dan ketika belanda telah pergi penghulu rasyid melambaikan tangannya memanggil seperti memanggil beduk itu. Keajaiban kembali terlihat, beduk itu seraya mendekat ke arah penghulu rasyid dan kemudian di angkat beduk itu ke dalam mesjid oleh masyarakat.

Tajau Suku Maanyan

Usia tajau ini mencapai 400 tahun, dulunya merupakan tempat air untuk memandikan anak yang baru lahir oleh suku dayak maanyan.

Sekarang di letakkan di teras mesjid. Oleh pengunjung sering di ambil airnya untuk sekedar mencuci muka hingga di bawa pulang untuk mandi. Konon air siapa yang mencuci muka atau mandi dengan air ini maka ia akan awet muda dan menarik di pandang mata (hanya mitos yang beredar di masyarakat). Namun terlepas dari mitos menggunakan air di tajau untuk membersihkan muka atau badan merupakan suatu yang baik, terlebih tajaunya merupakan bagian dari mesjid pusaka yang di kramatkan itu.
    selain itu pengunjung juga mempunyai kebiasaan memasukkan uang kedalam tajau tersebut. Awalnya selain uang perak, uang kertas turut serta di masukkan kedalam tajau, namun belakangan hal itu di larang karena di anggap mubajir karena lebih bermanfaat jika di masukkan ke dalam kotak amal.

Makam Penghulu Rasyid


Di samping teras sebelah kanan mesjid terdapat sebuah makam pahlawan sekaligus tokoh agama bernama penghulu rasyid. Beliau merupakan tokoh pergerakan dari banua lawas yang menentang penjajahan belanda di bumi kalimantan, khususnya di banua lawas.

Konon setelah melakukan perlawanan sengit beliau akhirnya terpaksa di pukul mundur karena tertembak peluru di kakinya. Beliau kabur kedalam hutan untuk sementara memulihkan kondisi tubuhnya, namun kemudian beliau meninggal dalam keadaan sholat dalam persembunyian itu.

Tradisi

Gantung Kambang dan Menapihi Tiang Guru


Ada kebiasaan unik yang di lakukan penjiarah ketika berkunjung ke mesjid pusaka ini. Salah satunya ialah menggantungkan kembang dan menapihi (membalut) kain kuning ke tiang guru (utama). Dan setelahnya mendekap tiang guru tersebut.

Kegiatan itu merupakan sebuah pembayaran nazar.
Masyarakat biasanya mengucap nazar
”jika nanti saya mendapatkan sesuatu/ harapan saya terkabul, saya akan menggantung kambang/ menapihi tiang guru di mesjid pusaka.”

Terlepas dari mitos-mitos terkait dengan kegiatan itu, kegiatan menggantung kambang dan menapihi tiang guru turut membuat ruangan mesjid menjadi harum dan enak untuk di pandang.

Tajau Dayak Maanyan

Tajau ini merupakan peninggalan suku dayak maanyan yang telah berumur sekitar 400 tahun. Konon air di dalam tajau dulunya di gunakan untuk memandikan anak suku dayak maanyan yang baru lahir.

Ketika berkunjung ke merjid pusaka tidak jarang orang mengambil air di dalam tajau tersebut baik untuk sekedar mencuci muka ataupun untuk di bawa pulang untuk di minum atau di mandikan sebagai sarana mengambil berkat mesjid pusaka.

Ukiran Tangan Penghulu Rasyid

Di bagian mimbar terdapat sebuah ukiran yang merupakan peninggalan sejarah. Ukiran bermotif salur salur daun dan bunga ini merupakan peninggalan dari penghulu rasyid seorang tokoh masyarakat dan pahlawan asli banua lawas.

Petaka Mesjid

Di bagian belakang mesjid terdapat petaka mesjid pusaka yang merupakan petaka pertama mesjid ini. Petaka yang terbuat dari kayu banglai ini merupakan bukti sejarah pembangunan mesjid pusaka banua lawas.

Dulu di biarkan terbuka dan masyarakat bisa langsung menyentuhnya. Namun oleh tangan yang tidak bertanggung jawab menyebabkan kerusakan pada peninggalan sejarah itu. Hingga sekarang telah di beri lemari kaca agar terlindungi.

Bagi masyarakat yang ingin menyentuhnya bisa meminta ijin kepada kaum mesjid untuk membukakan lemarinya.

Manfaat Bagi Masyarakat

Karena ramainya pengunjung yang datang terutama hari rabu dan minggu, hal ini memberikan berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar untuk mengais rezeki.

Tepat di depan mesjid mereka akan menjajakan dagangannya berupa makanan ringan, minuman, kembang, kue ataupun mainan.

Nah.. Segitu dulu yang bisa saya ulas tentang mesjid pusaka banua lawas, jika ada kritik, saran dan ingin menambahkan silakan komentar di bawah..

Dan jangan lupa share, agar cagar budaya yang satu ini semakin banyak pengunjungnya.

Popular posts from this blog

Berkunjung ke Tempat Rekreasi dan Pemancingan Mungkur Indah

Teknik dan Umpan mancing Iwak Papuyu paling ampuh