Mengenal Tradisi Baayun, cara menidurkan anak ala kalimantan

Pada masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan sudah lama dikenal tradisi mengayun anak bayi. Tradisi ini baik dalam acara-acara yang bersifat ritual dan terkait dengan keyakinan maupun dalam keseharian. Dalam acara yang bersifat ritual dan terkait dengan keyakinan adalah baayun bidan (bapalas bidan), baayun madihin, baayun wayang, dan baayun Mulud. Adapun mengayun anak bayi dalam keseharian adalah untuk menidurkannya, karena dengan diayun si anak bayi akan tertidur pulas dan lama.

Dalam hal keseharian itu, tradisi ibu-ibu masyarakat Banjar jika menidurkan anak bayinya selalu dengan cara mengayun. Mengayun anak ini adayang mengayun biasa dan ada yang badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang mengayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan. Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi (bakurui), bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu. Lirik lagu ini sangat puitis.

Liriknya antara lain seperti ini:
Guring-guring anakku guring
Guring diakan dalam pukungan/dalam ayunan
Anakku nang bungas lagi bauntung.
Hidup baiman mati baiman.

Lagu menidurkan anak merupakan tradisi lisan, karena ia hanya
disampaikan dengan bahasa lisan. Lirik lagu itu sekaligus sebagai hasil budaya masyarakat yang menggambarkan kehidupan masyarakat di masa lampau, dapat digunakan untuk menyampaikan pujian, hasrat, dan doa agar anak bayinya menjadi orang yang beriman, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan berguna bagi bangsa dan Negara.
Menurut penelusuran penulis, baik melalui internet, laporan penelitian maupun buku-buku yang penulis baca, tulisan tentang lirik lagu menidurkan anak pada masyarakat Banjar: kajian bentuk, makna, dan fungsi belum pernah
dilakukan. Namun tulisan yang sejenis dengan tulisan ini pernah dilakukan oleh Permata2 membahas tentang Bentuk, Fungsi, dan Makna Mantra Dayak Ngaju,
Condrat3 Mantra Dayak Maayan: Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna, Saberi
Mantra Banjar, Analisis Bentuk, Fungsi, Makna, dan Penandanya.
Tulisan tentang tradisi lisan yang dimuat di jurnal internasional, yakni
antara lain pertama, Campbell5
dalam artikelnya berjudul Masonic Song in Scotland:
Folk Tunes and Community menelusuri pada persoalan yang meliputi lagu-lagu
rakyat dan komunitasnya. Objeknya berupa lagu-lagu rakyat dari Freemasonry;
kedua, Akesson6
dengan artikelnya yang berjudul Oral/Aural Culture in Late Modern Society? Traditional Singing as Professionalized Genre and Oral- Derived
Expression membicarakan beberapa ekspresi dan elemen dari kelisanan dalam
masyarakat modern, peran, fungsi dan batas-batas ekspresi tersebut.
Tulisan berjudul Lirik Lagu Menidurkan Anak Pada Masyarakat Banjar:
Kajian Bentuk, Makna, dan Fungsi ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya
melestarikan lirik lagu menidurkan anak masyarakat Banjar agar keberadaanya
dapat dipertahankan sebagaimana mestinya. Melalui tulisan ini, teks lirik lagu
menidurkan anak masyarakat pada Banjar yang selama ini masih tersebar secara
sporadik dalam bentuk lisan akan dikumpulkan untuk kemudian dianalisis
bentuk, makna, dan fungsinya yang menjadi pendukung sebagai produk budaya
bernuansa religius, yang telah hidup dan berkembang di tengah kehidupan
masyarakat Banjar pada beberapa generasi. Penulis tertarik menulis tentang lirik
lagu menidurkan anak pada masyarakat Banjar agar nilai-nilai luhur yang
terkandung di dalamnya tidak hilang dari kehidupan. Di samping itu, tulisan ini
menjadi urgen sekali sebagai upaya melestarikan sastra lisan masyarakat Banjar.

Popular posts from this blog

Berkunjung ke Tempat Rekreasi dan Pemancingan Mungkur Indah

Cara membuat dan harga Atap dari Daun Rumbia